Selasa, 28 Februari 2012

Goa Jatijajar


Gua Jatijajar berada di kaki pegunungan kapur. Objek wisata ini sungguh sangat menarik. Pegunungan kapur ini memanjang dari utara dan ujungnya di selatan menjorok ke laut berupa sebuah tanjung. 

Image of Goa Jatijajar
Tour Anda di Jawa Tengah akan kurang lengkap kalau belum berkunjung ke Kabupaten Kebumen. Pasalnya, kabupaten yang dikenal sebagai penghasil sarang burung Walet ini menyimpan banyak objek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Sebut saja misalnya, Taman Wisata Gua Jatijajar yang terletak 21 kilometer ke arah selatan Gombong, atau 42 kilometer arah barat Kebumen. 

Sebagaimana umumnya objek wisata lain di Indonesia, yang hampir selalu menyimpan legenda, Gua Jatijajarpun tak terkecuali. Kata yang punya cerita, Gua Jatjajar ini pada jaman dahulu merupakan tempat bersemedi Raden Kamandaka, yang kemudian mendapat wangsit. Cerita Raden Kamandaka ini kemudian dikenal dengan legenda Lutung Kasarung. Visualisasi dari legenda tersebut dapat kita lihat dalam diorama yang ada di dalam goa itu.

Masuk ke dalam gua ini, bagaimanapun ada rasa deg-degan. Betapa tidak! Karena merasa seperti masuk ke dalam mulut binatang purba Dinosaurus. Tambah ngeri lagi jika membayangkan gelapnya suasana di dalam perut dinosaurus tersebut. Namun rasa cemas itu segera sirna, sebab ruangan diterangi oleh lampu listrik dari ujung ke ujung. Meski mulut gua cukup lebar, namun ruang perut dinosaurus lebih lebar lagi. Pada langit-langit terdapat sebuah lubang sebagai ventilasi. Di tengah-tengah terdapat kursi melingkar tempat duduk pengunjung sambil menikmati indahnya ornamen stalagtit dan stalagnit serta diorama legenda Lutung Kasarung.

Setelah puas menyaksikan sajian ini, perjalanan dilanjutkan dengan menuruni tangga menuju ruang yang merupakan bagian ekor dari dinosaurus tersebut. Di dalam ruang ini, Anda dapat melihat sumber mata air yang disebut Sendang. Jumlah sendang tersebut ada 4 buah, yaitu Sendang Mawar, Kantil, Jombor danPuserbumi. Sendang Mawar dipercayai mempunyai kekuatan gaib yang bisa membuat seseorang tetap awet muda, karenanya setiap pengunjung selalu menyempatkan diri untuk membasuh muka dengan air Sendang Mawar tersebut.

Dipenuhi oleh rasa kagum dan terpesona, tanpa terasa Anda telah menempuh jarak 250 meter menyusuri perut dinosaurus. Fantastis bukan? Dan itulah kenyataannya. Bukan itu saja, bahkan tanpa Anda sadari, Anda telah masuk ke perut bumi sedalam 40 meter. Benar-benar suatu petualangan yang santai yang hanya bisa dicicipi di Taman Wisata Gua Jatijajar. 

TRAVEL TIPS

Untuk sampai ke Taman Wisata Gua Jatijajar, tidaklah terlalu sulit. Apabila Anda naik kendaraan umum, ambillah jurusan Gombong-Jatijajar. Jika ingin menginap, di sekitar lokasi terdapat hotel melati dan homestay dengan tarif terjangkau. Sebagai pelengkap kunjungan Anda, ada baiknya mencicipi makanan khas daerah ini, yaitu Lanthing, yang banyak dijual di situ.

Sabtu, 18 Februari 2012

Gunung Slamet


Gunung Slamet (3.428 meter) adalah Gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa (Indonesia).Gunung Slamet berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, dan Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru. Terdapat empat kawah di puncak Gunung Slamet yang semuanya aktif.
Di kaki Gunung Slamet ini terdapat sebuah kawasan wisata bernama Batu Raden atau batur Raden. Kawasan wisata ini dapat dicapai dari kota Purwokerto, ibukota Kabupaten Banyumas, hanya berjarak sekitar 15 km dari Purwokerto.
Gunung Slamet merupakan salah satu gunung yang menjadi tujuan ekspedisi para pendaki gunung di Indonesia dan merupakan tujuan utama untuk anggota muda dalam melakukan pendakian wajib di ksmpa Titik Nol yang merupakan kelompok study yang beorganisasi di fakultas Saint dan Teknik Universitas Jendral Soedirman.
Dalam buku yang berjudul "Three Old Sundanese Poems", terbitan KITLV Leiden tahun 2006, J. Noorduyn menyebutkan bahwa nama "Slamet" adalah relatif baru yaitu setelah masuknya Islam ke Jawa. Dengan merujuk kepada naskah kuno Sunda Bujangga Manik, Noorduyn menuliskan bahwa nama lama dari gunung ini adalah Gunung Agung.
Sampai sekarang Gunung Slamet masih aktif dan sempat di katakan siaga pada awal 2011.

Jalur Pendakian Gunung Slamet
Jalur pendakian standar Gunung Slamet adalah dari Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangteja, purbalingga. Jalur populer lain adalah dari Baturaden , atau dari desa Gambuhan, desa Jurangmangu dan desa Gunungsari Kabupaten Pemalang.
Pendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air, walaupun ada itu juga merupakan genangan air. Kepada pendaki Gunung Slamet sangat disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Faktor lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat.
Tetapi Jika anda melewati jalur bambangan, mungkin masalah air tidak terlalu sulit. Memang para pendaki Gunung Slamet harus banyak membawa air dari bawah, tetapi sesampainya di pos v atau tepatnya di pos Samhyang rangkah akan terdapat sungai kecil yang letaknya tepat berada di bawah pos v.
Selain rute bambangan,ada pula rute pendakian melewati Dukuhliwung. Dari pos 1 sampai pos 5 yaitu puncak, membutuhkan waktu sekitar 8jam. Dan ada mata air di pos 2 dan 3.
Atau bisa juga melakukan pendakian melalui obyek wisata permandian air panas Guci, rute pendakian melalui guci masih sangat terjal. namun pemandangan di sepanjang rute ini lebih istimewa dibandingkan dengan rute mana pun. Pemandangan alam di rute guci masih sangat alami dan masih sangat liar, berkesan jauh dari peradaban manusia. kedua rute ini dapat ditempuh melewati kota Tegal lalu ke selatan menuju kota Slawi, melewati Lebaksiu, Yomani dan mulai memasuki dataran tinggi Tuwel.
Gunung Slamet di pandang dari kacamata geologi merupakan gunung stratovulcano yang terbentuk akibat pengaruh pergerakan tektonik lempeng antara lempeng indoaustralia dan lempeng eurasia. tumbukan antar lempeng mennyebabkan magma yang terbentuk lebih bersifat intermediet.


Mitos pendakian Gunung Slamet
Menurut cerita orang tua, Gunung Slamet adalah gunung yang sedikit berbeda dari gunung-gunung yang lainya di pulau Jawa. Gunung Slamet merupakan  gunung yang tidak biasa di daki dengan tujuan wisata /rekreasi, hobi  atau  sekedar ingin menaklukan Gunung. Pendakian puncak Gunung Slamet biasannya memiliki tujuan-tujuan khusus seperti spiritual, makanya pendaki-pendaki Gunung Slamet melengkapi syarat-syarat terlebih dahulu.


Syarat dan Pantangan Pendaki Gunung Slamet
Pendaki Gunung Slamet Harus Membawa Bunga , Kemenyan, dan harus ada Juru Kunci yang mengantar . Tetapi  jika pendaki gunung Slamet tidak diwajibkan membawa syarat-syarat tersebut, asalkan pendaki gunung slamet menjaga tingkah laku dalam pendakian, kalau tidak pendaki Gunung Slamet bisa mengalami kejadian kejadian mistis yang bisa membahayakan diri sendiri. 
Selain harus menjaga tingkah laku dan ucapanya, pendaki Gunung Slamet Juga tidak boleh memegang lutut, jika pendaki Gunung Slamet memegang lutut, Mitos yang beredar si Pendaki Gunung Slamet tidak akan mencapai puncak Gunung Slamet.
Hari-hari yang di larang untuk mendaki Gunung Slamet :  Minggu Legi, Slasa Legi, Setu Paing, Minggu Paing

Jumat, 10 Februari 2012

Pulau Nusakambangan

Nusakambangan merupakan suatu pulau kecil yang terletak di sebelah selatan kabupaten Cilacap. Secara administratif terletak di kecamatan Cilacap Selatan yang dikelilingi oleh perairan laut lepas (Samudera Hindi). Nusakambangan merupakan nama sebuah pulau di Jawa Tengah yang lebih dikenal sebagai tempat terletaknya beberapa Lembaga Pemasyarakatan (LP) berkeamanan tinggi di Indonesia.
Masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Cilacap. Untuk mencapai pulau ini orang harus menyeberang dengan kapal feri dari pelabuhanSamudera di Cilacap ke pelabuhan sondong di Nusakambangan.Semula terdapat sembilan LP di Nusa Kambangan, namun kini yang masih beroperasi hanya tinggal empat, yaitu LP Batu (dibangun 1925), LP Besi (dibangun 1929), LP Kembang Kuning (tahun 1950), dan LP Permisan (tertua, dibangun 1908). Lima lainnya, yaitu Nirbaya, Karang Tengah, Timus Buntu, Karang Anyar, dan Gleger telah ditutup.
Pulau Nusakambangan mempunyai tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah dan ekosistem pantai yang penting peranannya sebagai pengatur tata lingkungan, pencegah erosi serta merupakan habitat berbagai jenis fauna, antara lain macan kumbang (Panthera pardus), landak (Hystrix brachyura), trenggiling (Manis javanica), ular sanca (Python sp) serta berbagai jenis burung seperti rangkong (Buceros.sp).
Aspek penting Nusakambangan adalah nilai sejarah sebagai tempat tahanan para narapidana sejak zaman Belanda. Potensi menarik di Nusakambangan adalah panorama alam di Pantai Selatan, yaitu Pantai Permisan, adanya gua-gua dalam serta bangunan-bangunan tua bekas benteng pertahanan Portugis. Selain itu pantainya memiliki gelombang laut yang cukup potensial guna dikembangkan sebagai obyek wisataalamlaut.
Pada sektor pariwisata memiliki potensi wisata alam seperti pantai dan gua menonjol di Pulau Nusakambangan serta tidak ketinggalan wisata sejarah berupa benteng pengintaian,peninggalan zaman penjajahan.Nusakambangan memiliki 4 pantai yaitu Pasir Putih, Ranca Babakan, Karang Bolong dan Permisan, Deretan gua yang ada di pulau ini diberi nama Ratu, Putri, Bendung (Maria) dan Masigitsela. Keempat gua ini telah menjadi objek wisata umum sementara lima gua yang lain sampai sekarang belum bisa dinikmati keindahannya karena masalah transportasi.Sedangkan beberapa benteng yang ada yaitu Benteng Karang Bolong dan Benteng Klinger. Di hutan Nusakambangan kita juga masih bisa menemukan harimau, macan kumbang, ular, monyet dan pada daerah tertentu kadang juga ditemukan buaya.

Pulau Nusakambangan, yang berstatus sebagai cagar alam, juga merupakan habitat bagi pohon-pohon langka, namun banyak yang telah ditebang secara liar. Saat ini yang tersisa kebanyakan adalah tumbuhan perdu, nipah, dan belukar. Kayu pawlar yang hanya dapat ditemukan di pulau ini banyak dicuri karena setelah dikeringkan, mempunyai kualitas yang setara dengan kayu dariKalimantan. Secara tradisional, penerus dinasti Mataram sering melakukan ritual di pulau ini. Nusa Kambangan juga tercatat sebagai pertahanan terakhir dari tumbuhan Wijayakusuma yang sejati.
Nusakambangan mempunyai luas 30.000 Ha. Di dalamnya terdapat 4 kawasan konservasi alam yang kecil, yaitu Cagar Alam (CA) Nusakambangan Barat (928 ha), CA Nusakambangan Timur (277 ha), CA Wijayakusuma (satu ha), dan CA Karangbolong (0,5 ha) yang telah ditetapkan statusnya sejak zaman Belanda.
Di sebelah utara pulau Nusakambangan terhampar Segara Anakan dengan rangkaian pulau-pulau kecil bersambung dengan daerah rawa dan hutan mangrove di pantai selatan Cilacap. Perairan Segara Anakan merupakan bagian Samudra Indonesia dengan muara-muara sungai dan hutan payau Cilacap dan Ciamis. Bersama dengan hutan Nusakambangan, Segara Anakan berikut daerah di sekitarnya merupakan satu kesatuan tata lingkungan yang tersusun atas unit-unit ekosistem pulau kecil dengan hutan dataran rendah di Nusakambangan, pesisir dan pantai, ekosistem laguna di Segara Anakan, rawa dengan mangrove, baik yang ada di pantai utara Nusakambangan, pantai selatan Cilacap dan pantai timur Ciamis.
Tata lingkungan ini mendapat pengaruh dari air laut Samudra Indonesia dan air tawar dari beberapa Daerah Aliran Sungai seperti Citanduy dari sebelah barat, Cibeureum dan lain-lain dari utara, dan Sungai Donan dekat Cilacap.


         Melihat keadaan wilayah Nusakambangan serta Segara Anakan dapat diketahui bahwa daerah tersebut memiliki keanekaragaman ekosistem dan kekayaan sumberdaya alam hayati yang amat tinggi. Karena itulah kawasan Nusakambangan, Segara Anakan dan daerah sekitarnya menjadi pusat perhatian para konservasionis, bukan saja di Indonesia melainkan juga dari seluruh dunia. Segara Anakan, Nusakambangan serta daerah sekitar dengan potensi sumber daya alam hayatinya seolah telah menjadi milik dunia yang terus- menerus mendapat sorotan.
Nusakambangan merupakan pulau yang salah satu penyusun batuannya adalah batu gamping.Melalui sistem celah rekahan proses pelarutan batu gamping berlangsung dan membentuk rongga – rongga kecil sampai sangat besar membentuk gua.Gua merupakan lingkungan yang unik karena gelap sepanjang masa terutama bagian dalamnya dan memiliki ornamen – ornamen yang sangat indah karena di bentuk dalam proses yang lama.Ekosistem dalam gua merupakan suatu mata rantai yang unik dan memiliki kekhasan dibandingkan yang lainnya.

Kawasan kapur di Nusakambangan mulai terkikis oleh aktivitas penambangan kapur Semen Cibinong. Ancaman lain yaitu aktivitas wisata di dalam gua yang relatif merusak, penangkapan kelelawar dan penambangan guano.Gua-gua yang ada mempunyai perkembangan yang berbeda-beda dengan ornamen yang bervariasi. Survai di 9 gua ditemukan sedikitnya 65 jenis Arthropoda. Dengan rincian 11 jenis troglobit dan 54 lainnya dalam katagori troglofil dan troglosen. Jenis-jenis troglobit masih memerlukan penelitian yang lebih lanjut (Rahmadi dan Suhardjono 2003).
Akan tetapi, pulau ini masih menyisakan persoalan. Meskipun secara administratif berada dibawah kendali Kabupaten Cilacap, pengelolaannya masih berada di tangan Departemen Kehakiman. Karena itulah, pemerintah Kabupaten Cilacap dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) berupaya untuk bisa mengelola Nusakambangan sepenuhnya.Kabupaten Cilacap masih mempunyai beberapa lokasi wisata alam serta wisata budaya dan sejarah yang tidak kalah menariknya bagi wisatawan. Lokasi wisata alam itu seperti Pantai Teluk Penyu di Keca-matan Cilacap Selatan, Hutan Payau di Kecamatan Cilacap Utara, Gunung Selok dan Srandil di Kecamatan Adipala, Pan-tai Widarapayung di Kecamatan Binangun, Pantai Jetis di Kecamatan Nusawungu, dan juga Permandian Air Panas Cipari di Kecamatan Sidareja.Sedangkan bagi wisatawan yang ingin menelusuri sejarah bisa menikmati keberadaan Benteng Pendem Cilacap. Benteng yang dikenal sebagai Kusbatterij Op De Lantong Te Tjilatjap ini merupakan markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun selama 18 tahun (1861-1879) dengan luas 6,5 hektar.Menjual potensi wisata Cilacap tidak mudah. Persoalannya adalah letak geografi daerah ini seperti berada di jalan buntu. Cilacap hanya mengenal satu jalan untuk ke masuk dan keluar.Tidak ada jalan tembus lain untuk bisa lewat sambil melirik keindahan alam di sini, yang kemudian menarik hati untuk singgah. (Sriyadi Adisumarta/ Litbang Kompas)
       PERMASALAH : BAGAIMANA  CARA KITA  MENJAGA KELESTARIAN NUSA KAMBANGAN.

Sabtu, 04 Februari 2012

Panjat Tebing / Rock Climbing

Sejarah panjat tebing.

      Aktivitas panjat tebing sudah dikenal masyarakat sejak lama bahkan masyarakat tradisional, mereka melakukan pemanjatan guna mencari sumber kehidupan ataupun perlindungan, khususnya didaerah pantai dan kawasan karst untuk mencari sarang  burung atau sumber mata air. Tetapi mereka tidak memakai system dan prosedur yang baku seperti dalam olahraga panjat tebing sehingga faktor keamanan dan tingkat resiko yang dihadapi sangatlah tinggi.
Panjat tebing pertama kali dikenal di kawasan benua Eropa tepatnya di kawasan pegunungan Alpen sebelum perang Dunia I. Pada awal tahun 1910 dinegara Austria mulai diperkenalkan penggunaan peralatan-peralatan yang digunakan untuk menunjang dalam kegiatan panjat tebing seperti carabiner (cincin kait) dan piton (paku tebing) yang pada saat itu masih terbuat dari besi baja. Dan berawal dari situlah para pendaki dari Austria dan Jerman mulai mengembangkan peralatan dan teknik olah raga ini. Seiring waktu yang terus berjalan peralatan olah raga ini banyak mengalami inovasi, terutama pada bahan pembuatannya, uji kekuatan gaya tariknya, kepraktisan penggunaan alat serta prosedur keamanan alat yang telah distandartkan.
Di Indonesia olahraga panjat tebing sendiri telah terbentuk sejak tahun 1988 yang memiliki organisasi yang pada saat itu bernama FPGTI (Federasi Panjat Gunung Dan Panjat Tebing Indonesia) yang kemudian berganti nama dengan FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) sampai sekarang ini.

DEFINISI PANJAT TEBING

         Panjat tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing merupakan salah satu dari sekian banyak olah raga alam bebas dan merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45°  dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu.
Pada dasarnya olah raga panjat tebing adalah suatu olah raga yang mengutamakan kelenturan, kekuatan / daya tahan tubuh, kecerdikan, kerja sama team serta ketrampilan dan pengalaman setiap individu untuk menyiasati tebing itu sendiri. Dalam menambah ketinggian dengan memanfaatkan cacat batuan maupun rekahan / celah yang terdapat ditebing tersebut serta pemanfaatan peralatan yang efektif dan efisien untuk mencapai puncak pemanjatan.
Pada awalnya panjat tebing merupakan olah raga yang bersifat petualangan murni dan sedikit sekali memiliki peraturan yang jelas, seiring dengan berkembangnya olah raga itu sendiri dari waktu kewaktu telah ada bentuk dan standart baku dalam aktifitas dalam panjat tebing yang diikuti oleh penggiat panjat tebing. Banyaknya tuntutan tentang perkembangan olah raga ini memberi alternatif yang lain dari unsur petualangan itu sendiri. Dengan lebih mengedepankan unsur olah raga murni (sport).

Sistem pemanjatan dibagi menjadi dua :


1.    Himalayan system
       Pemanjatan system Himalayan ini adalah pemanjatan yang dilakukan dengan cara terhubungnya antara titik start (ground) dengan pitch / terminal terakhir pemanjatan, hubungan antara titik start dengan pitch adalah menggunakan tali transport, dimana tali tersebut adalah berfungsi supaya hubungan antara team pemanjat dengan team yang dibawah dapat terus berlangsung tali transport ini berfungsi juga sebagai lintasan pergantian team pemanjat juga sebagai jalur suplai peralatan ataupun yang lainnya.

2.    Alpen system
      Lain halnya dengan system diatas, jadi antara titik start dengan pitch terakhir sama sekali tidak terhubung dengan tali transpot, sehingga jalur pemanjatan adalah sebagai jalur perjalanan yang tidak akan dilewati kembali oleh team yang dibawah. Maka pemanjatan dengan system ini benar-benar harus matang perencanaanya karena semua kebutuhan yang mendukung dalam pemanjatan tersubut harus dibawa pada saat itu juga.

Dilihat dari bentuk penggunaan peralatan, panjat tebing terbagi menjadi 2 kelompok besar:


1.    Artificial climbing
      Merupakan pemanjatan yang mana didalam pergerakannya sepenuhnya didukung oleh alat dan pemanjat tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan alat tersebut. Peralatan selain sebagai pengaman juga sebagai tumpuan untuk menambah ketinggian dalam melakukan pemanjatan tersebut. Perlu diingat bahwasannya untuk dapat bergerak cepat dan aman dalam melakukan pemanjatan bukan disebabkan karena adanya peralatan yang super modern melainkan lebih diutamakan pada penggunaan teknik yang baik.

2.    Free climbing
       Adalah pemanjatan yang mengunakan alat hanya semata-mata untuk menambah ketinggian dan alat berfungsi sebagai pengaman saja tetapi tidak mempengaruhi  gerak dari pemanjat. Walaupun dalam pemanjatan tipe ini pemanjat diamankan oleh seorang belayer namun pengaman yang baik adalah diri sendiri.
Sedangkan untuk pengembangan dari jenis pemanjatan free climbing itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu :
- Top rope   pemanjatan dimana tali pemanjatan sudah terpasang sebelumnya.
- Solo           pemanjatan yang dilakukan seorang diri dengan merangkap fungsi sebagai  Leader,   Cleaner ,dan Belayer.

Sedangkan solo sendiri juga dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu :
a.   Solo artificial climbing
b.   Solo free climbing

Kamis, 01 Desember 2011

Senin, 26 Juli 2010

Hari ini kami akan berangkat pengembaraan menuju tempat yang sudah kami sepakati yaitu Lembah Kera yang terletak di malang, Jawa Timur. Semua peserta berkumpul di kontrakannya mas Galih Alun Bahari pada pukul 04.15 WIB dan mempersiapkan peralatan yang akan di bawa serta di pakai pada saat pengembaraan di laksanakan. Seksi pubdekdok pada moment ini action. Lalu, seksi logistik pun bergerak, Setelah semua logistik siap. Lalu, pada seksi transportasi pun bergerak mencari kendaraan yang akan kami gunakan untuk berangkat menuju stasiun purwokerto. Dan bendahara pun action pada moment ini. Sedangkan seksi konsumsi, seksi humas, dan seksi P3K pun standby. Setelah semua siap, Kami pun bersiap berangkat, kami dari bumi arca berangkat pada pukul 04.25 WIB dengan menggunakan mobil angkutan umum yang di dapat oleh seksi transport. Dan Kaop pun action mencatat. Lalu, pada pukul 05.15 WIB kami tiba di stasiun purwokerto. Dan beristirahat sekitar 45 menit di dalam stasiun skaligus menunggu kedatangan kereta. Dan seksi transportasi pun membeli tiket kereta yang menuju ke stasiun Surabaya. Lalu, pada pukul 05.58 WIB kereta pun tiba. Setelah tidak lama menunggu, pada pukul 06.10 kereta pun berangkat menuju surabaya. Dan pada saat dalam perjalanan, kami membagi kepantiaan untuk operasional perdivisi. Pada pukul 01.30 WIB, divisi caving pun turun dari kereta yang kami naiki. Dan setelah menempuh perjalanan selama 10 jam kurang, kami pun tiba di stasiun surabaya pada pukul 15.45 WIB dan kami pun istirahat sejenak sampai pukul 15.45 WIB sampai pukul 17.15 WIB. Pada saat istirahat, seksi konsumsi pun action membeli es teh untuk peserta pengembara dan Kaop action mencatat jadwal. Setelah beristirahat sejenak di stasiun surabaya, seksi transportasi pun action membeli tiket menuju stasiun malang pada pukul 16.34 WIB. Lalu, pada pukul 17.15 WIB, kereta pun datang dan kami langsung berangkat menuju stasiun malang. kami pun tiba di stasiun malang pada pukul 20.00 WIB. Kaop pun action mencatat jadwal. Perjalanan kami terhambat akibat adanya kendala pada transportasi yang kami tumpangi. Transport tersebut mengalami kendala sekitar 60 menit sehingga perjalanan kami pun terhambat. Seksi transport pun action mencari angkutan umum untuk menuju UIN Malang. Setelah mendapat angkutan umum, kami menuju universitas UIN Malang dengan menggunakan angkutan umum. Dan seksi yang lain pun standby. Akhirnya kami sampai di depan universitas UIN Malang pada pukul 20.45 WIB dan langsung di sambut oleh Ketua Umum mapala UIN Malang yang mempunyai mapala bernamakan THURSINA yang bernama Soak dan anggotanya. Di sini Kaop action mencatat jadwal, serta seksi yang lainnya standby. Lalu sesudahnya sampai di depan universitas UIN Malang dan di sambut hangat oleh ketumnya kami pun menuju tempat makan. Di tempat tersebut kami tiba pada pukul 21.00 WIB. Dan makan di tempat tersebut dan ramah tamah sampai pada pukul 23.05 WIB, Semua seksi pun standby. Setelah itu pun kami langsung berangkat menuju kontrakannya anggota THURSINA yang bernamakan bedug. Kami sampai di tempat tersebut pada pukul 23.25 WIB dan tidur dan ada juga yang berbincang – bincang dengan anggota THRUSINA tersebut.

Selasa, 27 Juli 2010

Hari ini kami bangun pada pukul 08.10 WIB dan setelah bangun sebagian dari kami ada yang mandi dan ada juga yang mengajak ngobrol teman mapala THURSINA. Setelah semua mandi dan packing barang – barang. Pada pukul 09.43 WIB kami makan bersama di kontrakan tersebut dengan anggota THURSINA dan semua seksi standby, kecuali Kaop mencatat jadwal. Setelah selesai makan, seksi logistik pun action untuk mengecheck kembali alat – alat yang sudah di keluarkan. Dan konsumsi action mengecheck kembali konsumsi yang akan di bawa pada saat operasional. Dan seksi pubdekdok action dokumentasi. Seksi yang lain pun standby. kami pun berangkat menuju sekre THURSINA yang terletak di dalam gedung universitas UIN Malang. Pada pukul 11.05 WIB kami pun tiba di sekre THURSINA, Kaop mencatat jadwal. sesampainya kami di sana. Kami langsung ngobrol dengan anggota thursina dan seksi logistik pun action meminjam alat yang kurang untuk kegiatan pengembaraan kami. Serta seksi konsumsi action membeli bahan makanan yang kurang untuk operasional dan Kaop mencatat jadwal.. Lalu, pada pukul 13.08 WIB kami langsung makan siang dengan anggota mapala THURSINA. Dan pada saat kami makan siang, datang 2 orang yang kami belum kenal. Setelah berkenalan sejenak, kami pun tahu bahwa 2 orang tersebut adalah mahasiswa UGM yang sedang mengkonfirmasi sponsor untuk kegiatan mereka. Salah satu dari 2 orang tersebut adalah anggota mapala kehutanan UGM yang bernama BOLANG. Dan salah satunya lagi adalah anggota freeland Yogyakarta yang bernama ARMAN. Lalu, pada pukul 19.17 WIB kami mengadakan acara studi banding dengan organisasi Mapala THURSINA. Peserta pengembaraan pun bertanya untuk studi banding dan Kaop mencatat jadwal serta seksi yang lainnya pun standby. Dan pada moment ini kami langsung berinteraksi dengan Ketua Umum Mapala tersebut yaitu bang soak. Dan hasil dari diskusi tersebut kami mengetahui Struktur Organisasi mapala tersebut dan proses – proses dari mapala tersebut setelah DIKSAR. Setelah mengadakan studi banding dengan organisasi tersebut, pada pukul 20.45 WIB kami pun keluar dari Universitas UIN Malang, Kaop mencatat jadwal. Karena, pada Universitas tersebut di berlakukan jam malam.setelah itu, kami pun berjalan menuju tempat makan yang kemarin. Dan kami pun makan bersama anggota THURSINA yang lainnya juga dengan 2 orang mahasiswa UGM tersebut. Selesai makan pada pukul 21.40 WIB, kami pun menuju ke kontrakan anggota THURSINA dengan menggunakan motor anggota THURSINA. Tetapi, kontrakan yang kami tuju ini berbeda dengan kontrakan yang kemarin kami singgahi. Lalu, kami tiba di kontrakan pada pukul 22.30 WIB dan tidur.

Rabu, 28 Juli 2010

Hari ini kami bangun pada pukul 06.30 WIB, dan langsung mandi serta siap – siap. Dan Kaop mencatat jadwal. Tetapi, setelah kami bersiap – siap. Perjalanan kami terhambat karena anggota THURSINA yang lain belum bangun. Dan posisi pintu depan terkunci dan kuncinya di pegang anggota THURSINA. Dan pada pukul 08.33 WIB, anggota THURSINA bangun dan membukakan pintu untuk kami. Lalu pada pukul 08.43 WIB, seksi konsumsi pun action membeli bahan makanan yang kurang untuk kelancaran pengembaraan kami. Lalu, setelah semuanya siap. Kami pun berangkat menuju sekre THURSINA dengan menggunakan motor anggota THURSINA. Setibanya kami di sekre tersebut pada pukul 09.24 WIB. Kaop action mencatat jadwal dan seksi yang lainnya standby. Lalu, pada saat kami ingin berangkat menuju Lembah Kera, kami tertahan akibat ada anggota THURSINA yang sedang keluar. Dan pada saat dia kembali, dia membawa makanan untuk kami yang akan berangkat pengembaraan. Akhirnya kami makan pada pukul 09.54 WIB. Setelah makan, pada pukul 11.38 WIB kami berangkat menuju Lembah Kera. Perjalanan dari sekre THURSINA menuju Lembah Kera memakan waktu sekitar kurang lebih 82 menit. Lalu, akhirnya kami pun tiba di basecamp Lembah Kera. Kami tiba pada pukul 12.42 WIB. Lalu, seksi humas action mengurus perijinan dan bersilahturahmi kepada penjaga Lembah Kera serta Kaop action mencatat jadwal dan seksi yang lainnya standby. Lalu, setelah berbincang – bincang selama 25 menit. Kami pun berangkat menuju Lembah Kera dengan menggunakan kendaraan bermotor milik anggota THURSINA. Tetapi, pada pertengahan jalan kami pun terhenti karena medan yang akan kami tuju berlumpur dan tidak bisa di lewati oleh kendaraan bermotor. Tetapi, apabila medannya sedang tidak berlumpur. Medan tersebut biasa di lewati oleh kendaraan bermotor. Akhirnya, kami pun jalan kaki menuju Lembah Kera yang memakan waktu sekitar 40 menit dari gang sebelum memasuki Lembah Kera. Lalu, kami sampai di Lembah Kera pada pukul 13.43 WIB. Setelah sampai Lembah Kera, seksi logistic ation mengeluarkan barang – barang yang di perlukan, kami langsung membuka tenda pada pukul 13.56 WIB. Saudara Alfian dan saudara Irfan mendirikan tenda. Lalu, Samara pun mempersiapkan alat untuk pelaksaan kegiatan yaitu operasional I yaitu RUNNERan. Alat – alat yang akan di pakai untuk melaksanakan kegiatan ini adalah Tali Kernmantel, Chalk Bag, Harness Panjat, MG, dan Runner. Setelah semuanya siap dan lengkap. Kami melangsungkan kegiatan. Tetapi, kegiatan tersebut tidak sesuai dengan SOP yang kami buat. Harusnya, pada hari itu kami melaksanakan kegiatan ARTIFICIAL. Tetapi, karena estimasi waktu yang tidak mencukupi untuk kegiatan tersebut. Akhirnya kami pun mengganti kegiatan tersebut dengan kegiatan RUNNER. Kegiatan tersebut di laksanakan pada pukul 14.21 WIB sampai pada pukul 17.48 WIB. Dengan pemanjat pertamanya adalah saudara Samara dengan BELAYERnya adalah saudara Irfan. Dan saudara Galih menjadi seksi PUBDEKDOK dan seksi yang lainnya standy serta Kaop mencatat jadwal kegiatan. Sedangkan saudara Alfian bersiap – siap memasang alat untuk melakukan pemanjatan. Lalu, saudara Samara memanjat tebing dengan mebawa peralatan berupa 4 buah runner, harness, Chalk Bag. hanya sampai RUNNER ke – 2. Lalu, setelah itu saudara Irfan yang melanjutkan pemanjatan menggantikan saudara Samara. Dan saudara Samara menjadi BELAYERnya saudara Irfan. Lalu, saudara Irfan memanjat tebing dengan membawa peralatan berupa 4 buah runner, harness, Chalk Bag. Saudara Irfan memanjat hanya sampai RUNNER ke – 2. Dan pada saat saudara Irfan dan saudara Samara melaksanakan kegiatan. Saudara Alfian dan saudara Galih mendapatkan ilmu dari saudara Bolang tentang teknik DYNO. Lalu, setelah di ajarkan oleh saudara Bolang, saudara Galih langsung mencoba teknik tersebut. Dan saudara Alfian menjadi PUBDEKDOK. Lalu, setelah saudara Irfan dan Saudara Samara melaksanakan kegiatan tersebut. Giliran saudara Alfian yang memanjat, Dengan BELAYERnya adalah saudara Galih. Lalu, saudara Alfian pun memanjat tebing dengan membawa peralatan berupa 4 buah runner, harness, Chalk Bag. Dan saudara Alfian memanjat mencapai RUNNER ke – 4. Pada saat saudara Alfian memanjat. Saudara Samara yang menjadi PUBDEKDOK. Dan saudara Irfan mendapatkan ilmu dari saudara Bolang. Lalu, saudara Alfian pun turun. Setelah kegiatan tersebut terlaksana kami pun langsung menuju tenda untuk chek list alat dan seksi konsumsi memasak makanan untuk makan malam pada pukul 18.06 WIB. Kami Check list alat terlebih dahulu pada pukul 17.54 WIB. Lalu, seksi konsumsi masak dan ada yang menemani tamu. Yang memasak adalah Alfian. Dan seksi yang lainnya standby. Lalu, sebagian dari kami ada yang menemani tamu dari THURSINA. Yang menemani tamu adalah saudara Irfan dan saudara Samara. Lalu, pada saat kami memasak hujan pun turun. Akhirnya, kami pun tetap memasak. Dan setelah melaksanakan kegiatan memasak dan makan malam. Ada, 1 orang anggota dari kami yang turun ke bawah untuk mengantar 1 orang anggota THURSINA pulang, Dan juga menemani 1 orang anggota THURSINA yang membeli konsumsi dan kami juga membeli konsumsi untuk menambah persediaan konsumsi kami. Karena, pada saat kegiatan kami kedatangan tamu dari anggota THURSINA. Yang menemani anggota THURSINA turun adalah saudara Alfian. Dan pada saat saudara Alfian turun, konsumsi di mandatkan kepada saudara Irfan. Lalu, pada pukul 19.34 WIB Alfian dan saudara Bedug kembali ke Lembah Kera dengan membawa konsumsi. Setelah itu, kami pun ramah tamah dengan anggota THURSINA serta dengan 2 orang dari UGM yaitu Arman dan Bolang. Lalu, pada pukul 23.56 WIB kami pun pergi tidur.

Kamis, 29 Juli 2010

Hari ini kami pun bangun pada pukul 08.12 WIB. Setelah bangun, seksi konsumsi pun bersiap – siap untuk masak untuk sarapan dan kaop mencatat jadwal serta seksi yang lainnya standby. Acara ini tidak sesuai dengan SOP. Ini di karenakan peserta yang bangun telat tidak sesuai dengan jadwal SOP. Yang memasak adalah saudara Alfian dengan di bantu saudara Irfan. Sedangkan saudara Samara menyiapkan alat untuk operasional II yaitu ARTIFICIAL dan HANGING – BELAY. Alat – alat yang akan di pakai untuk melaksanakan kegiatan ini adalah Tali Kernmantel, Figure Of 8, Chalk Bag, Harness Panjat, MG, Palu, Pyton, Stopper, Helm, Sepatu Panjat, dan Chalk Fren. Kegiatan ini tidak sesuai dengan SOP karena seharusnya di SOP, hari ini adalah kegiatan RUNNER. Tetapi, karena kegiatan RUNNER sudah di laksanakan pada hari sebelumnya. Maka kegiatan hari ini di ganti dengan kegiatan hari kemarin. Lalu, Kami masak pada pukul 08.24 WIB. Setelah masak dan sarapan, kami pun melaksanakan kegiatan pemetaan yang pertama pada pukul 09.44 WIB. Kaop mencatat jadwal dan seksi yang lainnya standby. Lalu, setelah pemetaan, kami pun melaksanakan kegiatan HANGING – BELAYdan ARTIFICIAL. Kegiatan tersebut kami laksanakan pada pukul 10.58 WIB. Pemanjat pertama adalah saudara Irfan dengan Samara sebagai BELAYER. Saudara Irfan memanjat dengan membawa alat berupa Figure Of 8, Chalk Bag, Harness Panjat, MG, Palu, Pyton, Stopper, dan Chalk Fren. Lalu, saudara Alfian bertindak sebagai PUBDEKDOK dan seksi konsumsi di pegang oleh saudara Galih Alun Bahari dan saudara Samara bertindak sebagai seksi logistik serta seksi yang lainnya standby. Lalu, setelah itu. Alfian menjadi pemanjat ke – dua. Dengan saudara Irfan sebagai BELAYER. Saudara Alfian memanjat dengan membawa alat berupa Chalk Bag, Harness Panjat, MG, dan 6 buah phyton. Dan saudara Samara sebagai PUBDEKDOK dan seksi konsumsi di ambil alih oleh Galih Alun Bahari. Seksi konsumsi standby untuk menyiapkan makan siang sedangkan seksi yang lain free kecuali Kaop mencatat jadwal. Pada pukul 12.44 WIB, anggota THURSINA ada yang membantu kami menyiapkan makan siang. Persiapan tersebut di laksanakan pada pukul 13.23 WIB. Lalu, setelah itu Irfan turun untuk makan. Saudara Irfan turun dengan BELAYERnya adalah saudara Alfian. Dan saudara Irfan turun membawa 5 buah phyton, dan Chalk Bag. Lalu, kemudian pemanjat ke – tiganya adalah saudara Galih Alun Bahari. Dengan 2 orang BELAYER, yaitu saudara Samara dan saudara Alfian. Lalu, setelah saudara Galih Alun Bahari membawa alat berupa 5 buah phyotn dan Chalk Bag. Saudara galih pun sampai di tempat saudara Alfian. Saudara Alfian pun turun. Setelah itu, saudara Samara pun naik dan saudara Galih menjadi BELAYERnya. Dengan membawa 5 buah phyton dan sebuah Chalk Bag. Setelah sampai di tempat saudara Galih, saudara Galih pun turun dengan BELAYERnya adalah saudara Samara. Lalu, setelah itu saudara Samara pun turun dan meng – CLEANING alat Artificial yaitu Figure Of 8, Chalk Bag, Harness Panjat, MG, Palu, Pyton, Stopper, dan Chalk Fren. Pada saat saudara Galih Alun Bahari dan saudara Samara melaksanakan kegiatan. Saudara Alfian bertindak sebagai PUBDEKDOK dan saudara Irfan melakukan kegiatan BOULDER horizontal di tebing di tempat kami melaksanakan kegiatan ARTIFICIAL. Kegiatan ini kami ini kami laksanakan dari pukul 10.58 WIB sampai pada pukul 15.48 WIB. Lalu, setelah kegiatan seksi logistik mengechecklist alat kembali dengan di bantu saudara Irfan dan Alfian. Alat – alat yang di pakai adalah Tali Kernmantel, Figure Of 8, Chalk Bag, Harness Panjat, MG, Palu, Pyton, Stopper, dan Chalk Fren. Setelah itu, seksi konsumsi pun menyiapkan makanan untuk kami masak untuk di sajikan sebagai hidangan makan malam kami dan Kaop mencatat jadwal serta seksi yang lainnya free. Seksi konsumsi masak pada pukul 19.32 WIB dan makan pada pukul 20.14 WIB. Setelah, semua selesai dan kami pun selesai berbincang – bincang dengan anggota THURSINA yang ada. Kami pun pergi tidur pada pukul 23.37 WIB.

Jum’at, 30 Juli 2010

Hari ini kami bangun tidur pada pukul 07.27 WIB. Setelah bangun, seperti biasa, Kaop dan seksi konsumsi memasak untuk mempersiapkan sarapan kami. Kami memasak pada pukul 07.48 WIB. Kegiatan ini tidak sesuai dengan SOP. Karena, estimasi waktu yang sangat mendesak dan juga karena peserta yang bangun telat. Setelah memasak kami pun langsung sarapan, setelah sarapan kami langsung pergi untuk melaksanakan kegiatan RUNNER. Seksi logistik menyiapkan alat – alat yang akan di gunakan. Alat – alat yang akan di pakai untuk melaksanakan kegiatan ini adalah Tali Kernmantel, Chalk Bag, Harness Panjat, MG, Sepatu Panjat, Helm dan Runner. Pemanjat pertama adalah saudara Samara dengan BELAYERnya adalah saudara Irfan. Saudara Samara memanjat dengan membawa alat berupa Chalk Bag, Harness Panjat, 7 buah Runner, dan sepatu panjat serta helm. Dan saudara Samara memanjat sampai pada RUNNER ke – 3. Lalu, saudara Samara pun turun. Setelah itu pemanjatan di lakukan dengan saudara Irfan dan BELAYER nya adalah saudara Samara. Saudara Irfan membawa alat berupa 4 buah Runner, Chalk Bag, Sepatu Panjat, Harness Panjat, dan Helm. Sedangkan saudara Alfian menjadi PUBDEKDOK sedangkan Kaop mencatat jadwal serta seksi konsumsi standby menyiapkan alat – alat untuk memasak sedangkan seksi yang lainnya standby. Lalu, setelah saudara Samara dan saudara Irfan selesai. Maka, saudara Alfian melakukan pemanjatan dengan saudara Galih menjadi BELAYER nya. Pada saat pemanjatan Saudara Alfian memanjat dengan membawa alat berupa Chalk Bag, Harness Panjat, 7 buah Runner, dan sepatu panjat serta helm. Saudara Alfian hanya mencapai RUNNER ke – 3 sama seperti saat saudara Samara dan Saudara Irfan memanjat. Setelah saudara Alfian turun, saudara Galih pun mencoba. Tetapi, hanya sampai RUNNER ke – 3. Kami melaksanakan dari pukul 08.47 WIB sampai pada pukul 17.36 WIB. Karena, pada saat pelaksanaan RUNNER bertepatan dengan hari jum’at. Maka, sebagian dari kami hendak mandi untuk sholat jum’at. Yang mandi adalah saudara Irfan dan saudara Alfian. Dan pada saat kami selesai mandi untuk melaksanakan sholat jum’at. Ternyata jemaah sholat jum’at sudah pulang dari ibadahnya. Akhirnya, kami memutuskan untuk melaksanakan dan melanjutkan kegiatan RUNNER yang sempat tertunda. Lalu, kami melanjutkan kegiatan RUNNER sampai pada pukul 13.07 WIB. Kaop mencatat jadwal dan yang menjadi Pemanjat pertama adalah saudara Alfian. Saudara Alfian memanjat dengan membawa alat berupa Chalk Bag, Harness Panjat, 7 buah Runner, dan sepatu panjat serta helm. Dengan BELAYERnya saudara Samara. Dan yang bertindak sebagai PUBDEKDOK adalah saudara Irfan dan konsumsi adalah saudara Galih Alun Bahari dan seksi yang lainnya standby. Pemanjatan saudara Alfian hanya bisa mencapai RUNNER yang ke – 3. Lalu, saudara Alfian turun dan saudara Samara pun memanjat dengan membawa alat berupa Chalk Bag, Harness Panjat, 7 buah Runner, dan sepatu panjat serta helm. Saudara Samara memanjat tebing tersebut dengan BELAYER nya adalah saudara Alfian. Saudara Samara pun berhasil memanjat sampai pada RUNNER ke – 4. Lalu, setelah itu, saudara Irfan bertukar posisi dengan saudara Samara yang sudah melaksanakan kegiatan tersebut. Lalu, saudara Irfan pun memanjat dengan membawa alat berupa Chalk Bag, Harness Panjat, 7 buah Runner, dan sepatu panjat serta helm. dengan BELAYERnya adalah saudara Alfian. Nah, pada saat saudara Irfan berada pada RUNNER ke – 1, terjadi kejadian yang tidak di inginkan. Karena kelalaian saudara Alfian yang lupa menarik tali BELAYER agar tertarik kencang agar pada saat sang pemanjat jatuh, sang pemanjat jatuh tidak terlalu parah. Tetapi, beruntung dengan cepat saudara Alfian menarik tali. Jadi saudara Irfan jatuhnya tidak terlalu parah. Lalu, setelah itu saudara Irfan memanjat sampai pada RUNNER ke – 4. Lalu, setelah itu saudara Irfan turun dan saudara Galih memanjat. Saudara galih, berhasil memanjat sampai pada RUNNER ke – 4. Lalu, saudara Galih pun turun. Lalu, saudara Samara memanjat lagi dengan BELAYERnya adalah saudara Irfan. Dan sampai pada RUNNER ke – 4. Lalu, setelah itu saudara Irfan memanjat dengan BELAYERnya adalah saudara Samara. Dan sampai pada RUNNER ke – 4. Setelah itu, saudara Alfian pun memanjat dengan BELAYER nya adalah saudara Galih. Saudara Alfian memanjat dan mencapai pada RUNNER ke – 4. Lalu, saudara Alfian pun turun dan saudara Galih pun memanjat. Dan sampai pada RUNNER ke – 4. Lalu, yang menge – CLEAN instalansi adalah saudara Samara. Tetapi, karena saudara Samara kehabisan stamina. Maka, yang menge – CLEAN alat. Setelah itu, seksi logistik mempacking dan kembali ke tenda untuk list alat dan seksi konsumsi menyiapkan masakan untuk makan malam kami serta Kaop mencatat jadwal dan seksi yang lainnya pun standby. Lalu, seksi konsumsi di bantu saudara Samara dan saudara Irfan memasak makanan pada pukul 17.39 WIB. Setelah itu kami makan dan berbincang – bincang sebentar dan pergi tidur.

Sabtu, 31 Juli 2010

Hari ini kami bangun pada pukul 06.32 WIB. Kaop mencatat jadwal. Setelah bangun dari tidur kami, seksi konsumsi langsung mempersiapkan makan dengan di bantu oleh saudara Irfan dan saudara Samara pada pukul 06.43 WIB. Setelah kami semua sarapan, seksi logistik langsung mengecheck alat untuk melaksanakan kegiatan selanjutnya. Setelah semua siap, alat – alat yang akan di gunakan adalah Tali Kernmantel, Figure Of 8, Chalk Bag, Harness Panjat, MG, Palu, Pyton, Stopper, Helm, Sepatu Panjat, dan Chalk Fren. kami pun berangkat menuju tebing untuk melaksanakan kegiatan ARTIFICIAL dan HANGGING – BELAY. Kaop mencatat jadwal dan pubdekdok mengdokumentasikan acara tersebut. Serta seksi konsumsi menyiapkan alat – alat masak dan seksi logistik mengecheck alat dan seksi yang lainnya standby. Kami melaksanakan kegiatan tersebut pada pukul 09.47 WIB. Pemanjat pertama adalah saudara Samara dengan membawa adalah Tali Kernmantel, Figure Of 8, Chalk Bag, Harness Panjat, MG, Palu, Pyton, Stopper, Helm, Sepatu Panjat, dan Chalk Fren. Dengan BELAYER nya adalah saudara Alfian. Dan saudara Samara sampai pada titik pit point 1. Lalu, saudara Alfian naik dengan membawa hanya Chalk Bag, 10 buah Tali Prusik, dan Helm. Dan saudara Alfian memanjat dengan BELAYERnya adalah saudara Samara. Lalu, setelah itu saudara Alfian meneruskan pemanjatannya melewati posisi saudara Samara, dengan membawa 4 buah Phyton. Setelah mencapai beberapa meter di atas saudara Samara. Pemanjatan pun terhenti, karena medan yang tidak memungkinkan untuk di lanjutkan dengan peralatan yang di bawa saudara Alfian. Karena saudara Alfian hanya membawa 10 Tali Prusik. Dan jumlah itu terlalu sedikit untuk membuat sebuah Angkor yang hanya mampu di capai dengan 1 tangan dan sangat kecil. Lalu, akhirnya saudara Alfian pun turun dengan BELAYERnya saudara Samara. Setelah sampai di bawah. Saudara Irfan pun melanjutkan pemanjatan menggantikan saudara Alfian yang turun. Lalu, saudara Irfan memanjat dengan membawa 3 buah Webbing, 5 buah Phyton, Helm, dan Chalk Bag. Dan saudara Irfan memanjat sampai pada titik di mana saudara Alfian sampai. Lalu, dengan alat yang saudara Irfan bawa, saudara Irfan mampu melewati titik yang menjadi kendala saudara Alfian. Dan mencapai point pit 2.Lalu, pada pukul 12.22 WIB seksi konsumsi mempersiapkan makan siang di dekat tebing yang kami panjat dan Kaop mencatat jadwal dan seksi yang lainnya standby. Setelah itu, kami semua melanjutkan kegiatan kami sampai pada pukul 16.56 WIB. Di sela – sela kegiatan kami ARTIFICIAL dan HANGGING – BELAY, bagi anggota kami yang sedang tidak ada kegiatan, kami melakukan kegiatan RUNNER. Lalu, kami di ajarkan simpul tali lepas yang berguna apabila sedang RUNNERan, dan ada tali yang tertinggal di atas. Maka hanya tinggal di tarik dari bawah. Caranya adalah tali prusik di simpul jangkar dan tali utama di masukkan ke dalam tali prusik tersebut. Lalu, apabila sudah sampai di atas. Maka pemanjat harus segera menyiangkan tali utama, dengan maksud sebagai penahan posisi si pemanjat. Lalu, setelah di simpul, maka si pemanjat turun dengan menggunakan Figure Of Eight. Lalu, setelah sampai di bawah. Maka si pemanjat segera menarik tali yang terakhir menjadi tali yang free. Setelah itu di tarik bergantian. Contoh : apabila tali utama yang sebelah kanan yang tegang. Maka, tali tersebut yang di pakai sebagai tumpuan untuk si pemanjat turun. Lalu, setelah di bawah. Tali yang sebelah kiri di tarik, maka tali yang sebelah kanan akan free. Lalu, sehabis itu tarik tai sebelah kanan di tarik. Karena, free. Dan kegiatan tarik – menarik tersebut di lakukan hingga sampai tali utama berada di dekat simpul jangkar. Lalu, tali prusik yang di simpul tersebut akan lepas. Dan tali akan jatuh ke bawah. Lalu, kegiatan kami selesai pada pukul 16.48 WIB. Seksi logistik mengecheck alat dan Kaop mencatat jadwal dan seksi yang lainnya standby. Lalu, kami pun kembali ke tenda dan melakukan evaluasi sejenak pada pukul 17.14 WIB. Selesai evaluasi, seksi konsumsi langsung masak untuk makan malam kami dan Kaop mencatat jadwal. Kami masak pada pukul 17.38 WIB. Lalu, kami makan malam pada pukul 17.59 WIB. Setelah makan malam kami pun berdiskusi sejenak dengan anggota THURSINA. Setelah itu, kami pergi tidur.

Minggu, 1 Agustus 2010

Hari ini kami bangun pada pukul 06.18 WIB. Setelah bangun, Kaop mencatat jadwal dan seksi konsumsi langsung membuat sarapan di bantu oleh saudara Samara pada pukul 06.32 WIB dan saudara Irfan mandi. Setelah sarapan, saudara Alfian dan saudara Irfan melakukan kegiatan pemetaan tebing. Kami melaksanakan kegiatan tersebut pada pukul 07.22 WIB. Dengan membawa 5 buah tali webbing yang di ikat menjadi 1, dan membawa busur, papan jalan, pensil, dan Kertas. Dan seksi logistik membenahi alat – alat seperti tenda dum dan lain – lain dan seksi yang lainnya standby. Setelah semua kegiatan pemetaan telah terselesaikan. Kami semua pun bersiap – siap dan mempacking semua barang – barang kami. Setelah semua terselesaikan. Kami pun turun menuju basecamp pada pukul 10.14 WIB. Perjalanan menuju basecamp memakan waktu sekitar 40 menit. Akhirnya kami sampai pada pukul 10.54 WIB di basecamp. Setelah itu, kami semua pulang menuju pertigaan dengan menggunakan 1 buah motor anggota THURSINA. Dan di antar bolak – balik oleh seksi transportasi dari base camp menuju pertigaan yang sangat dekat jalan raya. Lalu, kami menunggu angkutan umum yang mirip mobil pribadi tanpa ada nama angkutannya pada pukul 11.24 WIB untuk menuju lokasi perempatan kesamben. Setelah sampai di daerah perempatan kesamben, kami pun tiba dan turun pada pukul 12.18 WIB. Lalu, seksi transportasi pun bergerak mencari kendaraan yang akan kami gunakan untuk berangkat untuk melanjutkan perjalanan lagi dengan menggunakan angkutan umum berupa bis menuju daerah Kacul pada pukul 12.54 WIB. Setelah sesampainya kami di sana pada pukul 13.26 WIB, kami pun turun dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum yang di carikan oleh seksi transportasi dan dapat angkutan umum dengan nama ADL, pada pukul 14.07 WIB menuju universitas UIN Malang. Kami sampai di tempat tersebut pada pukul 14.33 WIB. Setelah sampai di UIN Malang dan bertemu dengan divisi MOUNTENERING. Dan langsung makan pada sorenya di warung soto yang tak jauh dari UIN. Setelah itu, kami langsung berangkat menuju sekre mapala JOGGRING SALAKA, yang terletak di UNM. Kami berangkat menuju mapala JONGGRING SALAKA pada pukul 15.24 WIB dengan menggunakan angkutan umum AGL yang sudah di carikan seksi transportasi. Kami sampai pada pukul 15.43 WIB di kampus Universitas Negeri Malang. Sesampainya di sana kami harus berjalan kaki menuju sekrenya yang berada di belakang kampus Universitas Negeri Malang. Setelah itu, kami ijin pamit untuk kembali ke UIN Malang. Akhirnya, kami pun kembali ke sekre THURSINA. Kami berangkat dari Universitas Negeri Malang menuju universitas UIN Malang pada pukul 17.48 WIB dengan menggunakan angkutan umum AGL. Lalu, kami sampai di UIN Malang pada pukul 18.14 WIB. Lalu, kami masuk ke dalam UIN Malang. Setelah itu kami semua bersiap – siap untuk pulang. Tetapi, kami di tahan oleh ketua umum THURSINA. Kami di bawa ke tempat makan. Tetapi, berbeda dengan tempat makan yang sebelumnya. Kami makan pada pukul 21.46 WIB. Selesainya makan kami ingin langsung menuju stasiun malang. Tetapi, kami di suruh menginap satu malam lagi di kontrakan anggota THURSINA dan pada esoknya baru kami bisa pulang. Kami sampai di kontrakan pada pukul 22.38 WIB. Sesampainya di kontrakan tersebut, kami berbincang – bincang sejenak dengan anggota THURSINA yang lainnya sampai pada pukul 23.56 WIB dan setelah itu kami pun tidur.

Senin, 2 Agustus 2010

Hari ini kami bangun jam 04.14 WIB. Setelah bangun kami langsung jalan kaki menuju jalan raya. Waktu pada saat mencari angkutan umum, kami agak kesulitan. Karena, keadaan waktu itu saat subuh dan sangat jarang ada angkutan umum. Akhirnya, kami naik angkutan umum pada pukul 04.28 WIB. Lalu, kami sampai di stasiun malang pada pukul 04.38 WIB. Lalu, sesampainya di stasiun malang seksi transport langsung membeli tiket kereta api. Dan pada saat itu juga kereta akan berangkat. Kereta berangkat jam 04.44 WIB. Lalu, kereta sampai di stasiun gubeng pukul 07.28 WIB. Setelah itu, ada anggota yang membeli tiket kereta api yang menuju purwokerto dan ada yang mandi atau cuci muka. Lalu, setelah itu kami pun membuat makanan di di dalam stasiun. Kami masak pada pukul 07.45 WIB. Seksi konsumsi pun mengeluarkan makanan dari sisa makanan yang tersisa dari pengembaraan kami. Lalu, memasaknya. Kami pun makan di stasiun pada pukul 08.34 WIB. Setelah makan kami menunggu sekitar 193 menit atau 3 jam lebih 13 menit hingga kereta yang kami tunggu datang. Akhirnya kereta yang kami juga datang pada pukul 09.52 WIB. Kami menunggu hingga kereta api berangkat pada pukul 10.18 WIB. Lalu, kereta api pun berangkat. Kami menghabiskan sekitar 11 jam 20 menit menuju purwokerto. Dan akhirnya kereta tiba di stasiun purwokerto pada pukul 21.38 WIB. Lalu, setelah sampai di stasiun purwokerto kami pun naik mobil angkutan umum menuju bumi arca yang sudah di pesan oleh seksi transportasi. Lalu, kami sampai di bumi arca pada pukul 21.54 WIB. Dan kami pun membantu seksi logistik yang sedang beres – beres dan mengechek alat – alat yang kami bawa. Setelah semuanya beres, kami pun pulang ke kostan kami masing – masing.


Senin, 23 Mei 2011

Rumah Pelangi: Berdamai dengan Alam

Rumah Pelangi adalah sebuah kawasan konservasi hutan dan lahan seluas 90 hektar di Dusun Gunung Benuah, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Kawasan ini berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Pontianak ke arah Tayan. Rumah Pelangi dirintis oleh Pastor Samuel Oton Sidin, OFM Cap. pada tahun 2003. Kendati luas konservasi sangat kecil dibandingkan dengan luas lahan kritis yang ada, apa yang dilakukan Rumah Pelangi merupakan seruan etis kepada khalayak ramai untuk memulai suatu habitus (paradigma) baru yang lebih bersahabat dan ramah terhadap alam. Selama ini wacana pelestarian lingkungan hanya tinggal wacana lip service tanpa tindakan nyata. Pelbagai seminar tentang “Global Warming” terselenggara tanpa tindak lanjut yang jelas. Dengan prinsip “mulai dari diri sendiri”, Pastor Samuel merealisasi kecintaan dan hormatnya terhadap alam melalui proyek Rumah Pelangi. Action Rumah Pelangi yang “kecil” lebih bernilai daripada pelbagai gagasan dan statement ekologis yang hanya tinggal jargon semata. “Magnum in parvo”: bernilai besar dalam hal-hal kecil. Itulah yang dilakukan Rumah Pelangi.

sumber : kompasiana.com

Pastor Samuel Oton Sidin adalah seorang pastor biarawan dari Ordo Kapusin; doktor fransiskanologi dari Universitas Antonianum, Roma – Italia. Kiprahnya dalam pelestarian alam merupakan salah satu wujud penghayatan teladan hidup Fransiskus dari Assisi (pendiri ordo fransiskan) yang terkenal sebagai pelindung ekologi. Setelah menunaikan tugas sebagai minister propinsial Ordo Kapusin Pontianak selama dua periode (1997-2003), Pastor Samuel mengabdikan hidupnya untuk upaya konservasi alam di Rumah Pelangi. Pada waktu pemilihan minister propinsial Kapusin pada tahun 2009, ia terpilih kembali untuk memimpin Propinsi Kapusin Pontianak periode 2009-2012.

Ketika Pastor Samuel membeli kawasan yang akan dijadikan Rumah Pelangi di hamparan seluas 70 hektar pada tahun 2000, sebagian besar lahan di perbukitan dan rawa-rawa itu merupakan lahan yang rusak. Sisi utara dan selatan area tersebut banyak yang terbakar, sementara di sebelah barat nyaris tanpa pohon karena sudah ditebang. Keanekaragaman hayati sebagai kekayaan alam yang tersimpan di bumi khatulistiwa, turut lenyap dengan musnahnya hutan. Sedikit demi sedikit, kawasan yang rusak itu direhabilitasi. Secara bertahap, area lahan lain seluas 20 hektar juga dibeli sehingga kawasan konservasi bertambah luas.

Selain menjadi kawasan konservasi, Rumah Pelangi juga mengedukasi masyarakat tentang bagaimana mengolah lahan yang baik, mengembangkan bibit tanaman, dan mengembangkan usaha produktif dari bercocok tanam. Salah satu metode yang dikembangkan adalah membuat percontohan saluran irigasi dan sawah serta pelestarian mata air. Pastor Samuel membuat sebuah bendungan kecil untuk mengaliri sawah sekitar satu hektare. Selain menjadi sumber air Rumah Pelangi, bendungan itu juga turut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar.

Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Dalam upaya penyadaran dan pembelajaran terhadap masyarakat sekitar, Pastor Samuel memakai prinsip inside-out. Kesadaran harus ditumbuhkan dari dalam. Ia mengampanyekan pelestarian alam bukan dengan menyalahkan atau melarang masyarakat sekitar yang kebanyakan menebang pohon demi asap dapur. Ia menggugah kesadaran dan rasa hormat terhadap alam melalui contoh teladan dan pendekatan persuasif.

Upaya konservasi Rumah Pelangi dilakukan dengan menanam kembali tanaman asli Kalimantan. Ratusan jenis tanaman buah dan pepohonan asli Kalimantan dikembangkan di kawasan itu. Dapat disebut antara lain pohon asam (18 jenis), bambu (15 jenis), pohon keras (14 jenis, misalnya belian, tapang, sengaon, gaharu), dan berbagai jenis buah-buahan seperti rambutan, mangga, langsat, jambu, nangka, dan durian. Sejumlah bunga juga ditemukan seperti pelbagai jenis anggrek dan kantung semar. Rumah Pelangi juga menangkar hewan landak yang makin langka.

Hal yang menarik untuk diketahui adalah Pastor Samuel memberi perhatian khusus untuk tanaman alam (hutan) yang tidak memberikan nilai ekonomis. Menurutnya, masyarakat cenderung memusnahkannya dan menggantikannya dengan tanaman yang laku di pasar. Pertimbangan masyarakat tentu bisa dimaklumi. Pastor Samuel justru melestarikannya agar generasi-generasi mendatang tidak hanya sekedar mendengar cerita, melainkan masih dapat melihatnya. Pelbagai tanaman langka itu antara lain mangga hutan, asam bawang, bacang, rambutan hutan, kandis, dan gandaria.

Pelangi: Simbol Harmoni dan Perdamaian
Nama “Rumah Pelangi” terinspirasi dari kisah Nabi Nuh dalam Kitab Suci. Setelah 40 hari 40 malam banjir raya menimpa manusia, muncul pelangi di cakrawala. Menurut Dr. Samuel, pelangi adalah tanda perdamaian dengan semua; damai dengan alam, manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Ia berharap, kehadiran konservasi Rumah Pelangi bisa menjadi seruan bagi kita semua untuk mewujudkan perdamaian dengan alam seperti tersirat dalam simbol pelangi.

Juru Kunci Merapi Ajak Masyarakat Ikut Jaga Merapi

Jakarta - Asihono atau Asih (44) putra ketiga (alm) Mbah Maridjan/Mas Penewu Suraksohargo hari ini dilantik menjadi juru kunci Gunung Merapi oleh Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Asih pun berjanji akan selalu berkoordinasi dan ajak masyarakat untuk ikut menjaga gunung teraktif dunia itu.

"Tugas ini adalah amanah yang harus saya emban. Saya berterimakasih kepada keraton yang telah mempercayakan tugas ini," ungkap Asih yang saat ini mendapat gelar Mas Lurah Suraksosihono kepada wartawan seusai menghadiri wisuda abdi dalem di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan Kraton Ngayogyokarta, Senin (4/4/2011).

Menurut dia, tanggung jawab menjaga Gunung Merapi itu tidak hanya dipegang dirinya bersama 17 orang saja yang saat ini sebagai Pengirit Abdi Dalem Juru Kunci Merapi. Namun juga oleh semua warga masyarakat yang ada di sekitar Merapi bersama semua pihak.

"Kami akan selalu berkoordinasi dengan masyarakat dan semua pihak untuk menjaga Merapi. Saya akan meneruskan semua hal yang telah jalankan oleh bapak," kata Asih yang sebelumnya bergelar Mas Bekel Anom Suraksosihono itu.

Sebagai abdi dalem, lanjut Asih, dirinya juga akan mematuhi semua aturan yang telah ditetapkan oleh Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Abdi dalem harus dapat mengemban tugas sebagai penjaga dan pelestari budaya di Yogyakarta.

"Sebagai juru kunci harus bisa menjalankan tugas dengan baik. Senang karena ini amanah dan boleh dikatakan susah karena ini tanggung jawab yang tidak mudah. Saya akan melaksanakan dengan hati-hati," kata Asih.

Menurut Asih, sebelum dilantik menjadi juru kunci Merapi, dirinya juga sudah diberikan beberapa pesan oleh keraton melalui GBPH Joyokusumo yang menjabat sebagai Panghageng Kawedanan Ageng Panitrapura untuk selalui berkomunikasi dan koordinasi dengan semua pihak baik kraton, pemerintah setempat dan Vulkanologi maupun BPPTK (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian) seperti yang telah dipesan

"Yang penting dilakukan adalah berkoordinasi sebab juru kunci itu hanya salah satu bagian yakni di bidang kebudayaan. Semua harus dipadukan atau disesuaikan," ungkap suami Muryanti itu.

Sehari-harinya Asih bekerja sebagai karyawan non akademik di Universitas Islam Indonesia (UII) di kampus terpadu di Jl Kaliurang Km 14. Oleh karena itu dirinya juga akan memberitahukan kepada pihak pimpinan UII mengenai tugas baru sebagai juru kunci Merapi yang akan diemban mulai saat ini.

"Saya berharap semua berjalan lancar tanpa ada hambatan apapun," harapnya.

Karena Dusun Kinahrejo tempat tinggalnya dulu bersama sang ayah, Mbah Maridjan, sudah hancur tertimbun material ketika erupsi Merapi tahun lalu, Asih bersama keluarganya serta warga dusun lainnya untuk sementara tinggal di shelter Dusun Plosokerep Desa Umbulharjo. Jaraknya sekitar 5 km di bawah tempat tinggal terdahulu.

Beberapa permintaan seperti peralatan upacara untuk labuhan seperti songsong (payung), jodhang (tempat pembawa sesaji), Praja Cihna (lambang Haba), pakaian peranakan 10 setel, janggan sapengadheg 8 setel untuk keperluan upacara labuhan dari keraton juga sudah diterima.

Saat acara pelantikan/wisuda abdi dalem, selain Asih sebanyak 229 abdi dalem juga dikuti di wisuda Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan Kraton Ngayogyakarto. Para abdi dalem yang dilantik terdiri dari 143 Abdi Dalem Punakawan dan 86 Abdi Dalem keprajan. Semua abdi dalem yang di wisuda oleh GBPH Joyokusumo menerima Serat Kekancingan (surat keputusan) dari Raja Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X.